Laki-laki sejati
Posted on Agustus 10th, 2009 by admin in nikmatisuatu kewajiban bagi yang telah wajib menjalankannya,
biarlah peluh dan letih kepenatan mengiringi hari ini dan selanjutnya, kelak semua itu akan
menjadi saksi dihadapan Allah SWT,
bersama tungkai kaki yang kaku, otot yang mengeras, pundak yang berat, kepala yang berputar
terus berfikir, bathin yang merintih menghadapi semua beban kerja mencari nafkah untuk keluarga
tercinta yang harus dipenuhi.
Doa anak dan istri iringi sepanjang jarak tempuh dalam perjalanan “hati-hati dijalan ya . . . ! “
juga perlindungan malaikat hingga tiba kembali di tengah keluarga, tiada balasan yang pantas
selain dengan senyuman manis keluarga penuh kebagiaan.
untuk Bapak-bapak kita, laki-laki, suami-suami.
Agustus 11th, 2009 at 09:31
Tiada kata “menyerah” bapak. Hukum kepantasan akan senantiasa berlaku. Hanya mereka yang “sudah selesai dengan dirinya” yang akan terus bergerak maju. Menggapai kebermaknaan hidup. Berkeluarga pintu besatr menuju kebermaknaan hidup….hehehe.
Semangat.
(Ayahnya Raka)
Agustus 11th, 2009 at 09:37
Tidak ada mimpi besar tanpa sebuah tanggung jawab yang besar. Tiada kata lelah untuk mencapai kebermaknaan hidup. Hanya mereka yang “sudah selesai” dengan dirinya yang akan memiliki keberanian untuk membuat keputusan besar untuk berkeluarga.
Tetap semangat.
(Ayahnya Raka)
Agustus 11th, 2009 at 10:01
@Ayahnya Raka :
Tetep optimis dan semangat.
maksudnya “sudah selesai dengan dirinya?” apa yah?
sekarang sedang melengkapi kebermaknaan hidup.
Agustus 11th, 2009 at 10:11
OOT : Itu komentar saya dobel pak, karena tadi sempat error waktu submit…hehe.
“Sudah selesai dengan dirinya”
Dalam konteks pengambilan keputusan, mengalami sebuah penggalian ke dalam diri sendiri secara mendalam untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Merelakan sebagian dari ego pribadinya untuk menjadi bagian yang harus dibagi dengan orang lain. Dan memang akan sangat terasa ketika sudah berkeluarga. Dan tidak bisa dibayangkan dalam sebuah rangkaian pemikiran saja tanpa mengalami, hanya akan jadi bayangan teori belaka. Berdamai dengan diri sendiri…hehehe.
ini komentarnya bisa lebih panjang dari postingnya ya…wkwkwkwkwkw.
(Ayahnya Raka)
Agustus 11th, 2009 at 10:30
sebelumnya terima kasih komennya,
#Itu komentar saya dobel pak, karena tadi sempat error waktu submit…hehe.
*gpp dobel beda kalimat aja.
* komen yang bagus, : Berdamai dengan diri sendiri
piss
*sengaja poting ga panjang, tapi cukup nyampe maksudnya kan?
Agustus 11th, 2009 at 12:54
Affirmative…maksud bisa diterima dengan baik pak.
(Ayahnya Raka)
Agustus 12th, 2009 at 16:20
“Tak kenal lelah kenalnya duit”
mungkin seperti itu bahasa sindiran dari teman2 saya yang menjadi motivasi saya untuk melangkah kedepan.
Apa lagi nanti klo sudah berkeluarga harus membanting tulang untik menafkahi anak dan istri kata2 di atas harus di jadikan moto tuh
Agustus 12th, 2009 at 16:36
@syarieffien : makasih udah komen
kata2 di atas harus di jadikan moto tuh
kata-kata yang mana yah?
ko tulang dibanting-banting sih?
bukankah Allah SWT telah mencukupkan rezeki kita dalam hidup?
“Tak kenal lelah kenalnya duit”
hal ini ada takarannya dengan halal atau haram nya bang. yang mana akan kita nafkahkan?